NIKAH KAHIN YAKIN

Cinta seindah apapun rupanya tidak mungkin bersenyawa tanpa ada pemahaman kodrati dan insani. Booom.
Otak terusik dengan sebuah pertanyaan lama tentang hal sakral seputar ikhwal perenikahan. Nikah? Bukankah itu sunah Rasul? Yap betul sekali, sayang semakin ke sini hanya menjadi ajang pelampiasan syahwat. Pokoknya biar gak digrebek satpol pp, bikin licin kamar mandi, dapetin guling hidup, semua dapat di tempuh. Loh bukannya itu tujuan mulia pernikahan? Untuk melanjutkan keturunan, maka tidak diperbolehkan sesama jenis berhubungan, ndak mandek keturunannya. Benarkah demikian.
Terlepas dari tetek bengek, memang pernikahan selalu diidentikkan dengan malam pertama. Tentu pertanyaan brengsek “Piye, isih rapet?” atau “ Bagaimana malam pertamanya, lancar” bagi pasangan baru yang masih seneng pamer pasti akan menjawab seraya dibesar-besarkan (bukan yang besar menegak, bukan). Sungguh pertanyaan semacam ini tidak pantas dan lucu, pernikahan tidak sehina itu. Biarlah dua orang sejoli asik masyuk, kalau kepingin ya datang ke pasangan halalmu. eits.
Sepasang mempelai yang baru saja menikah siang hari tadi sedang berada dalam satu ruang. Sang wanita telah berganti baju, persis sebelum sang pria memasuki kamar. Adapun sang pria baru saja selesai menyalami teman-temannya, hendak melucuti semua pakaian, berganti dengan katok berlogo Chievo. Mempelai wanita duduk di sudut ambin, menghadap ke dinding putih berhiaskan bunga dekorasi malam pertama. Mereka duduk berdampingan, ragu saling meremas tangan masing-masing. Jam menunjuk pukul 11, obrolan tidak penting, terkait berapa jumlah mantan yang datang ketika resepsi, hingga sang wanita tertawa lepas, sang suami menengadah dengan mulut terbuka, sayup-sayup terdengar suara keluar dari tenggorakannya, ngegas. Terlelap. Tidak terasa setahun sudah kedua mempelai menjalani bahtera tumah tangga, tanpa ada kejelasan jabang bayi.
Kesucian adalah hak preogratif masing-masing individu, pernikahan yang dijamin halal sekalipun tidak punya wewenang untuk merenggutnya tanpa ikhlas untuk melepas. Meminta dengan paksa bukanlah hak wanita atau pria, meskipun kaum wanita selalu terpojokkan dengan dalil Al Qur’an.
Ngeri rasanya punya istri banyak, akan tetapi usia setelah istri pertama semakin menurun saja. Poligami memang dianjurkan dalam Islam, praktiknya? Jauh dari kata lemper, oncom, tombro, atau lumpia. Gosong bos. Nafsukah yang berbicara? Sila tengok istri Rasulullah yang perawan siapa, kalau bukan Aisyah. Sisanya? Pengayoman menjadi sebuah alasan, tengoklah lagi!
Hanya orang gila yang tidak mau mencumbu istrinya ketika berdua dalam satu ruang. Sungguh dia sufi yang taat, bukan gila umumnya. Isitilah Gila hanyalah definisi tanpa definisi pasti jika sudah tiada cukup kata untuk didefinisakan.
Jika hanya nafsu selangkangan yang kau mau, datanglah ke penjaja. Jangan kau tutupi nafsu dengan dalih syar'ie, syariat agama tidak senaif itu. Naudzu Billah min Dzalik.
Kan panjang. Heu.
Mencintai adalah takdir, menikah adalah nasib. (Sujiwo Tejo)
Pernah suatu kali aku menggugat nikah itu hanya nafsu yang tersamarkan, modus cicip berbalut agama. Duh liberal tidak ini? Terserah saja. Menikah bukan sekedar retorika, teori, tapi kita harus siap dengan segala kemungkinan. Siap-siap apabila istri/suamimu ternyata suka cebok pakai tangan kanan dan makan muluk juga dengan tangan kanan. Bisakah tahan?
Suatu ketika di peradilan agama diadakan sidang cerai, seorang kakek dan nenek, ku taksir demikian berdasar ke kerut wajah yang semakin melipat. Lantas otakku bertanya? Mengapa kedua sejoli yang sudah sekian lama hidup bersama masih saja dihantui perpisahan. Bukankah mereka sudah seiya sekata, tahu sama-sama tahu apa yang dikehendaki pasangannya? Tidak segampang itu, ternyata memang sabar itu ada batasnya. Heuh.
Dalih menunda pernikahan yang paling manjur adalah BELUM NEMU JODOHNYA YANG PAS, NANTI KALAU JODOH PASTI GAK BAKAL KEMANA ini slogan orang-orang pasrah. Sebenarnya calon mempelai sangat bisa didapatkan dalam sehari, bisa sekali. Cinta? Masih ngeyel dengan mantra ampuh witing tresno jalaraning soko kulino, mau ngeyel apalagi? Sebutkan! Cinta datang tak menyapa, jodoh menghampiri ketika hati terbuka.
Jodoh adalah misteri, sama halnya dengan rezeki? Rombak total keyakinanmu itu, tidak semua orang menikah itu berjodoh. 
Bagiku ritual menikah itu hanya sebuah perjudian, kita tidak bisa tahu dalaman sebuah barang hingga kita membuka dan memakainya. Jodoh ataupun itu hanyalah mistis agar mempelai mau menerima kekurangan masing-masing. Bahkan yang sudah pacaran lama pun mempunyai resiko gagal dalam membangun rumah tangga. Ketika berpacaran, topeng selalu dipergunakan, maka biasakan dari sekarang blak-blakan dengan calonmu (jika ada) terkait setiap inci dirimu. Terbuka adalah koentji. Agama tidak bisa mengcover hal remeh temeh seperti ini bung. Satu lagi bersyukur, kamu diciptakan doyan lawan jenis. Seburuk rupanya wanita tetap dia berbelahan dada, juga berterowongan, jangan lupa cantik itu identik dengan wanita. Adapun pria, tetaplah dia manusia dengan ekor maju ke depan, tataplah betapa gantengnya suamimu.
Jangan samakan dengan istri-istri ustadz yang berjejeran diatas jumlah dua ketika diajak poto, adem ya? Hati manusia siapa yang tahu bukan? Konon mereka sudah diberi doktrin surga yang kuat, makanya narimo ing pandum saja (semoga ini hanya praduga).
Nah, jika masih keukeuh istri/suamimu adalah jodohmu coba tanyakan kepada orang yang bercerai, menikah, bercerai, menikah lantas kapok untuk menjalin hubungan, hingga memilih membesarkan anaknya sendiri. Pertanyaan besar, siapa sebenarnya jodoh mereka? Tidakkah banyak fenomena ini?
Menikah adalah seni untuk saling memahami, bukan hanya sekedar hubungan intim suami istri. Ada tanggungjawab dalam ijab, dipasrahkan dalam qabul, diikat dalam kata sah. Seserahan dari amanah Orangtua dari Tuhan untuk dijaga sampai mati kepada kedua mempelai, berat harus.
Dan anda hanya membaca teori saja, selamat.

Jogjakarta senin malam, hujan rintik di luar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nomor Stambuk, nomor legenda.

Gila Sama Dengan Waras

Pagi ini