Chicken Wings Fire, Bangkit!

Hmmmm. Daging ayam. Hmmm chicken wings fire level 5.
Saya sedang menambal waktu dengan browsing di internet, melihat aneka macam olahan sayap ayam yang lebih beken disebut chicken wings.
Sepintas, air liur hendak brobos mili (sekilas saja, nyatanya ya ndak mleleh-mleleh). Asal menuliskan kata kunci chicken wings saja bisa memunculkan beribu saran memasak, dari satu web saja saya dapat 3.385 resep. Bayangkan betapa sayap ayam tidak menggoda? Baik, setelahnya saya masih iseng, sebenarnya harga pasaran sayap ayam itu berapa? Sek, tunggu tak browsing sebentar.
Di bandung harga sayap ayam 29.000/kg hm, kira-kira dapat berapa hitung sendiri lah ya. Heu. Sementara itu di carrefour 4550/gram, giant lebih murah sedikit 3990/gram dua-duanya memasang discount dengan syarat tertentu. Bagaimana, apakah anda tertarik untuk mencoba resep baru sayap ayam hari ini?
Sebenarnya saya heran dengan fenomena belakangan ini. Nah, dalam perjalanan dari kantor imigrasi Jogja di mana rintik hujan mengkebeskan  baju, terbesit usil pikiran. Sepele sebenarnya, ini tentang bangkitnya si sayap ayam.
Merasa iri dengan sebaya lainnnya, kala waktu sayap berpikir keras bagaimana cara meruntuhkan dominasi kawan sejawatnya. Sudah menjadi sayap ayam yang mandul (hanya bisa untuk kepak-kepak saja, tak menolong terbang semestinya. Anehnya hal ini hanya berlaku di unggah jenis ayam saja) ditambah ndak laku lagi. Ini sungguh perlu perombakan sistem marketing, padahal aku memiliki kulit yang lumayan gurih, teksturku tipis, kulitku menyeluruh dan itu membuat bumbu gampang meresap. Lalu mengapa masih saja masih terpinggirkan. Kira-kira begitu gerutu sayap ayam (ini berdasar pada wawancara satu arah terhadap ayam potong kuning seorang teman yang sering nembelek di atas kasur dan konon sedang menunggu ajalnya sebagai kanibal, karena diberi makan kulit ayam goreng itu sendiri).
Lama-lama kok ngawur? Yo ben, cen hooh kok.
Pernah mendengar ceker pedas embel-embel level? Gaungnya sudah agak sayup kini, dulu hits sekali. Bahkan jika ndak makan dan belum makan itu anda masuk kategori ketinggalan jaman. Saya ya ndak tertarik tuh, jadi saya ya pasrah dijuluki apa saja. Toh, saya ndak tertarik dengan kulit keras yang melekat di ceker, enaknya dimana? Sampai dikerukuti resik, hingga tersisa tulang putih. Kok kurang kerjaan? Seorang teman yang suka ngangkring dengan duit lima ribu rupiah berdalih selera makan ayam itu esensinya ada pada cekernya. Ini alasan kere manusia yang ingin menikmati ayam dengan fulus cekat, ya ceker bisa anda kerokoti cukup dengan mengeluarkan uang seribu rupiah. Gorengan saja sekarang dapat 1,5, sudah begitu bentuknya kecil pula.
Eh, ini sayap ayamnya kok belum kesentuh le? Sebentar jeda, streaming lagunya SID sunset di tanah anarki.........
Fenomena naiknya pamor sayap ayam sebenarnya tidak lepas dari terobosan Richeese Factory, oh ada wafewr rasa saya ayap kah? Bukan. Ini ekspansi bisnis induk richeese dalam bentuk masakan ayam pedas. Kalau masih penasaran klik youtube richeese challenge level lima, maka anda akan melihat deretan bibir merah dengan keringat bercucuran hebat. Itu adalah level terpedas dalam menu andalan, kalau tidak ada kuota ya numpang hotspot ke teman kan boleh. Banyak tuh, kuota 4G yang terbuang sia-sia.
Saya tidak menyarankan anda setelah ini pergi ke richeese untuk mengobati rasa penasaran loh ya, apalagi di Jogja baru di buka, saya tidak ada maksud lain. Lha wong saja saya makan dada level 5 sudah goweh-goweh. Beli makan richeese sekali bisa mbuat makan 3 kali sehari, gak percaya? Kalkulasikan sendiri, biar anda semakin penasaran.
Sayap ayam mulai mengekspansi, dengan menu andalan pedasnya mulai menggoda. Ada beberapa faktor mengapa sayap ayam lebih favorit dari dada, padahal kan daging dada lebih banyak daripada sayap yang sak uwiil. Begini, salah satu teman yang sukarela mencoba dua-duannya hanya dengan kalimat sakti terimakasih menjabarkan, perbedaan nyata yaitu terletak pada rasa pedas yang berkali-kali menghantam bibir, dada sensasinya hanya sekali, berbedam dengan sayap, habis jedah goweh-goweh  santap lagi sampai lima kali. Piye perasaanmu?  Tapi bener ada orang yang biasa saja melahap semua unsur pedas, tanpa minum sampai tandas semua chicken wings itu? Wow. Gak usah gumun, biasa saja. Katakanlah mereka doyan pedas.
Jadi faktor bumbu yang meresap membuat sensasi pedas huhhhah semakin terasa, tekstur tipis ditunjang kulit lebat membuat uuhhhh bumbu ndrusel-ndrusel pada setiap inci. Nah, ini salah satu faktor kembali terbangnya si sayap ayam, padahal dalam kenyataan ya hanya buat pajangan saja sayap ayam tersebut.
Kok panjang sekali, sudah 600 kata. Banyak ya? Bagaimana kalau kita sudahi saja. Ya sudah sampai jumpa di lain waktu.
Jadi anda sudah berhasil membuang waktu produktif anda untuk membaca karikatur tak jelas juntrungnya ini, sungguh.




Jogja, hari ini cerah setelah mendung pagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nomor Stambuk, nomor legenda.

Gila Sama Dengan Waras

Pagi ini