Romantika sejarah yang tercecer
Ingatanku tersentak, menyembul ke
permukaan, mengotak -atik perihal sejarah. Percakapan yang seharusnya tidak
perlu untuk diperdengarkan (nguping) mengusik memori yang telah lama terpendam.
Secara konstan hadir untuk kembali diperbincangkan, diperdebatkan, bahkan
direnungkan (jika perlu). Jika isu tidak digulirkan pada institusi pendidikan
(apalagi berbasis Islam), maka tidak sedikit menjadi soal. Sekilas masalah ini
remeh. Penjahat harus dibunuh, dimusnahkan itu suatu yang halal, bahkan seperti
itulah setidaknya plot-plot cerita tentang kepahlawanan. Apalah aku, apalah
aku, apalah aku, yang hanya membual saja.
Baik. Seorang anak bertanya
kepada Ibunya.
"Bu. Begitu kejamkah P**
itu, hingga menyiksa manusia sedemikian rupa?"
Sang ibu tergeragap dengan
pertanyaan semacam ini. Sambil bertanya-tanya dalam hati, dapat kabar darimana
anak ini. Sang Ibu hanya tahu memasukan anaknya ke institusi agama, untuk
memperdalam ilmu agama. Seharusnya masalah kebrutalan tidak terlalu disinggung
sevulgar ini.
"Ya mungkin seperti itu,
nduk."
Ibu hanya menjawab sekenanya
saja, itu juga berasal dari mulut ke mulut.
Heran? Seharusnya kisah ini
tidak mengherankan, karena buku sejarah pintar utk mendramatisir sejarah. Aku
sempat mengira, berbekal buku sejarah sd, smp, maupun sma sudah cukup untuk
sanggup disebut paham sejarah. Ternyata semua itu meleset. Ada banyak plot
sejarah yang hilang, dimanipulasi sedemikian rupa guna "Stabilitas
nasional" katanya. Berbicara mengenai sejarah, tentu tidak pernah lepas
dari pahit, asam, manis, asinnya sebuah perjalanan. Sangat disayangkan sejarah
diolah menjadi satu rasa oleh penguasa, manis.
Anak itu hanyalah sebagian anak
yang sukses terdoktrin, tentang manusia tidak beradab yang membinasakan nyawa
manusia lainnya.
Ingatanku mengendur, pada tahun
2004. Tatkala air mata begitu mudah mengalir dari kelopak mata, ketika harus
beradaptasi dengan lingkungan baru. Tanggal 30 september malam merupakan salah
satu malam yang mencekam, (bukankah malam selalu mencekam karena pekatnya?)
terutama bagi kami penghuni baru. Di sinilah mitos berjalan, terpaku dalam
setiap ingatan. Konon hanya pada malam itu terdapat atraksi baris berbaris di
depan gedung asrama. Hentakan sepatu beradu dengan bumi, ciri khas adanya
kegiatan baris berbaris. Konon suaranya nyaring, tanpa terlihat wujud aslinya.
Ah, rasanya sangat beruntung apabila menyaksikan peristiwa langka ini. Sungguh,
ini hanya cerita dari mulut ke mulut yang tidak terlacak rimba kesahihannya.
Bayangkan betapa beruntungnya piket malam yang berjumpa dengan suara derap
sepatu tanpa wujud ini. Mitoskah semua ini? Karena sampai sekaranf hanya mentok
pada katanya, katanya, katanya, dan katanya atau sejarah cangkeman.
Mungkin sekarang aku hanya
tertawa, tersenyum mengingat kepercayaan tanpa syarat tentang semua cerita itu.
Kau pun mungkin tak habis pikir, bagaimana bisa percaya hanya melalui omongan
saja. Itulah masa kanak-kanak, suka dengan cerita mistis yang bagi sebagian
manusia dewasa tidak logis, karena susah untuk dibuktikan.
Naif, apabila menyalahkan guru
pengajar sejarah. Mereka bisa apa, apabila kurikulum pendidikan mensyaratkan
seperti demikian. Lantas, haruskah mereka membaca sejarah dengan sisi yang
berbeda? Ah, nanti mungkin akan disebut pembelot, kiri dst. Sejarah adalah
salah satu kemungkinan, tidak akan pernah menjadi satu-satunya kemungkinan.
Oleh karena itu perlu pembacaan yang luas, pembendaharaan ilmu tak terbatas
guna mendidik pembacaan sejarah yang berimbang. Perlu teknik, rujukan,
referensi untuk setidaknya menyimpulkan peristiwa sejarah.
Terkait doktrin sejarah P** di
institusi Islam, hal ini juga sangat disayangkan. Para murid sudah seharusnya
diberikan wawasan yang tidak mendramatisir dan punya kecenderungan lebay.
Sudahlah, sampaikan apa yang tertera saja, tidak usah dibumbui bagaimana
siksaan sebelum eksekusi kematian misalnya. Toh juga jika yang disampaikan
sejarah cangkeman, yang belum tentu rimba asalnya malah menjerumuskan murid itu
sendiri. Sekali lagi perlu klarifikasi isu.
Bersambung....
Ingatanku tersentak, menyembul ke
permukaan, mengotak -atik perihal sejarah. Percakapan yang seharusnya tidak
perlu untuk diperdengarkan (nguping) mengusik memori yang telah lama terpendam.
Secara konstan hadir untuk kembali diperbincangkan, diperdebatkan, bahkan
direnungkan (jika perlu). Jika isu tidak digulirkan pada institusi pendidikan
(apalagi berbasis Islam), maka tidak sedikit menjadi soal. Sekilas masalah ini
remeh. Penjahat harus dibunuh, dimusnahkan itu suatu yang halal, bahkan seperti
itulah setidaknya plot-plot cerita tentang kepahlawanan. Apalah aku, apalah
aku, apalah aku, yang hanya membual saja.
Baik. Seorang anak bertanya
kepada Ibunya.
"Bu. Begitu kejamkah P**
itu, hingga menyiksa manusia sedemikian rupa?"
Sang ibu tergeragap dengan
pertanyaan semacam ini. Sambil bertanya-tanya dalam hati, dapat kabar darimana
anak ini. Sang Ibu hanya tahu memasukan anaknya ke institusi agama, untuk
memperdalam ilmu agama. Seharusnya masalah kebrutalan tidak terlalu disinggung
sevulgar ini.
"Ya mungkin seperti itu,
nduk."
Ibu hanya menjawab sekenanya
saja, itu juga berasal dari mulut ke mulut.
Heran? Seharusnya kisah ini
tidak mengherankan, karena buku sejarah pintar utk mendramatisir sejarah. Aku
sempat mengira, berbekal buku sejarah sd, smp, maupun sma sudah cukup untuk
sanggup disebut paham sejarah. Ternyata semua itu meleset. Ada banyak plot
sejarah yang hilang, dimanipulasi sedemikian rupa guna "Stabilitas
nasional" katanya. Berbicara mengenai sejarah, tentu tidak pernah lepas
dari pahit, asam, manis, asinnya sebuah perjalanan. Sangat disayangkan sejarah
diolah menjadi satu rasa oleh penguasa, manis.
Anak itu hanyalah sebagian anak
yang sukses terdoktrin, tentang manusia tidak beradab yang membinasakan nyawa
manusia lainnya.
Ingatanku mengendur, pada tahun
2004. Tatkala air mata begitu mudah mengalir dari kelopak mata, ketika harus
beradaptasi dengan lingkungan baru. Tanggal 30 september malam merupakan salah
satu malam yang mencekam, (bukankah malam selalu mencekam karena pekatnya?)
terutama bagi kami penghuni baru. Di sinilah mitos berjalan, terpaku dalam
setiap ingatan. Konon hanya pada malam itu terdapat atraksi baris berbaris di
depan gedung asrama. Hentakan sepatu beradu dengan bumi, ciri khas adanya
kegiatan baris berbaris. Konon suaranya nyaring, tanpa terlihat wujud aslinya.
Ah, rasanya sangat beruntung apabila menyaksikan peristiwa langka ini. Sungguh,
ini hanya cerita dari mulut ke mulut yang tidak terlacak rimba kesahihannya.
Bayangkan betapa beruntungnya piket malam yang berjumpa dengan suara derap
sepatu tanpa wujud ini. Mitoskah semua ini? Karena sampai sekaranf hanya mentok
pada katanya, katanya, katanya, dan katanya atau sejarah cangkeman.
Mungkin sekarang aku hanya
tertawa, tersenyum mengingat kepercayaan tanpa syarat tentang semua cerita itu.
Kau pun mungkin tak habis pikir, bagaimana bisa percaya hanya melalui omongan
saja. Itulah masa kanak-kanak, suka dengan cerita mistis yang bagi sebagian
manusia dewasa tidak logis, karena susah untuk dibuktikan.
Naif, apabila menyalahkan guru
pengajar sejarah. Mereka bisa apa, apabila kurikulum pendidikan mensyaratkan
seperti demikian. Lantas, haruskah mereka membaca sejarah dengan sisi yang
berbeda? Ah, nanti mungkin akan disebut pembelot, kiri dst. Sejarah adalah
salah satu kemungkinan, tidak akan pernah menjadi satu-satunya kemungkinan.
Oleh karena itu perlu pembacaan yang luas, pembendaharaan ilmu tak terbatas
guna mendidik pembacaan sejarah yang berimbang. Perlu teknik, rujukan,
referensi untuk setidaknya menyimpulkan peristiwa sejarah.
Terkait doktrin sejarah P** di
institusi Islam, hal ini juga sangat disayangkan. Para murid sudah seharusnya
diberikan wawasan yang tidak mendramatisir dan punya kecenderungan lebay.
Sudahlah, sampaikan apa yang tertera saja, tidak usah dibumbui bagaimana
siksaan sebelum eksekusi kematian misalnya. Toh juga jika yang disampaikan
sejarah cangkeman, yang belum tentu rimba asalnya malah menjerumuskan murid itu
sendiri. Sekali lagi perlu klarifikasi isu.
Bersambung....
Komentar
Posting Komentar