Postingan

Untukmu Mas.

Sebenarnya ingin rasanya tulisan ini saya ketik dulu-dulu, akan tetapi karena beberapa faktor, baru siang ini rincian pembahasan berhasil terincikan. Baiklah ini dia: Teruntuk Masnya Halo Mas, mungkin suatu kali Mas mampir di sini, sedikit membaca ini, saya ucapkan terimakasih. Saya tidak ada maksud lain, karena memang calon istri Mas itu sendiri yang memulai. Tidak, saya tidak menyalahkannya dalam arti menjadikannya penyebab, namun seperti yang kita ketahui bersama ya Mas, dia mengidap sebuah gejala lebay. Bukan begitu Mas? Baik, sebelumnya saya berterimakasih kepada Masnya yang dengan sangat tersungut-sungut mampir di sini, membaca beberapa tulisan yang entah layak disebut tulisan atau tidak. Dulu. Dulu Mas, calon istri Masnya mengagumi hasil ­ uneg-uneg saya ini. Dia menganggap saya yang seperti ini sebagai penulis besar, padahal ya mas, karya tulis pun saya tidak punya. Ya seperti ini-ini saja, seperti Mas baca. Benar-benar gak bermutu kan Mas? Nah, mengapa say...

Siang

Siang tadi. Iya, siang tadi. Sekitar jam 13.30 we I be. Aku mengetikan untukmu pada malam hari langsung, padahal tadi sudah niat untuk hal lain. Hm. Nampaknya, jemari dan otakku bersekongkol pada hal lain, tidak terlalu penting sebenarnya. Ya boleh lah, sekali-kali melemaskan jemari setelah vakum terlalu lama, terlalu lammma. Baik langsung saja. Seorang teman datang, dia baru saja menikah, belum genap sebulan lah. Datang dari jauh, ingin jalan-jalan di kota Palangkaraya, kebetulan sekali keberadaanku sedang di sini, jadi tak salah lah membagi rezeki berupa traktiran makan. Boleh lah. Masalahnya dimana? Sebenarnya tidak ada masalah berarti nan serius untuk ditanggapi, selain ya memang tadi siang kawan-kawanku tlah berpasangan. Sah, masing-masing dengan pasangan resminya menurut KUA. Aku? O jok takon cuk, niat ae isih embuh nylungsep mbuh nengdi? Ditunjang dengan mimik wajahku yang memang minta dilempari koin atau beberapa lembar uang kecil, pas sudah. Lah emang waj...

Romantika Sejarah yang Tercecer II

Lanjutan ya dari kisah romantika sejarah yang tercecer. Kenapa perlu dilanjutkan? Agar anda tahu kemana arah opini saya akan berujung. Bagi saya, pengajar di sebuah institusi Islam sudah seharusnya lebih bisa menyaring informasi, menyampaikan seperlunya tanpa menambahi bumbu dramatisir. Muara dari usikan saya berasal dari sebuah pondok, pondok apa? Hayo, kiranya pondok ini masih ada sangkut pautnya dengan saya. Hmmmmm. Tebak sendiri ya! Saya maklum bagaimana trauma yang dialami oleh keluarga pondok, di mana para Kiai dicari untuk dibunuh sehingga banyak Kiai yang bersembunyi di Gua-gua oleh sejarah yang menyebut mereka sebagai antek PKI. Benarkah demikian? Jika diteliisik lebih lanjut maka anda akan menemukan fakta bahwa ada semacam penghalang dari unsur pemuka masyarakat, Kiai menjadi salah satu unsur yang mewakili, di mana masyarakat setidaknya masih sendiko dawuh   atas apa ngendiko Kiai tersebut. Kebetulan basis gerakan PKI juga dekat dengan berdirinya pondok s...