Postingan

Bulat hijau: Teman Dekat.

Harus dimulai dari mana kisah ini bosku? Sudah lama toh tak mendengar awak bercerita atau sekedar nyampah di sini. Baiklah, walau tidak selihai Seno Gumira Ajidarma dalam “mempreteli” kalimat. Setidaknya awak berani mencoba. Jadi mari kita mulai saja. Hari-hari ini Instagram mengagetkanku, sebagai media sosial yang lagi hits badai terobosan-terobosan sangat perlu dilakukan. Begitu pula yang dilakukan oleh instagram. Namun itu semua justru membingungkanku, heleh ancene aku seng kudet og . Setelah bunder-bunder abang nang duwur awang-awang, seng kadang nyepetke mripat lek ora diilangi.   Ya terkadang asal mencet aja sih biar merahnya berubah jadi putih, mau dinononaktifkan “story” itu kok ya eman. Jadi serba tanggung, mau dilihat takut kuota habis. Maklum hp masih 3G, wifi jauh, nongkrong jarang. Tapi ya dasarnya keinginan untuk mengetahui aktifitas teman memang tinggi, tahu-tahu ya dapat pemeberitahuan “kuota internet anda sudah habis, silakan isi ulang untuk melanjutka...

Ngedumel, sambat dulur.

Tulisan ini sangat subyetif, apabila dibaca lain waktu hanya akan menyunggingkan senyum di bibir saja. Oh aku pernah curcol seperti ini ya? Setidaknya ini adalah pembenaran dari sebuah pemikiran negatif, “setidaknya”.             Betapa anehnya hidup, usaha agar tidak merepotkan orang lain malah direpotkan oleh orang lain. Apakah ini semacam kesempatan untuk menanam amal? Apakah hanya sebuah kebetulan, karena tiada yang abadi selain kepentingan?             Aneh sebenarnya jika memisahkan kehidupan dengan kepentingan. Untuk kehidupanlah manusia berkepentingan, napas, makan, tidur, uang menjadi tolak ukur. Manusia rela melakukan apa saja agar kepentingannya terpenuhi, walau harus merebut hak manusia lain misalnya. Dalih kebutuhan mendesak lah, keadilan lah atau dalih yang sering kita dengar “perut” atau hawa nafsu. Benar kata Rasulullah, bahwa musuh terbesar manusia ...

Kebanggaan semu di balik Batik Biru

Sebelumnya, Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 74! Sebenarnya kasak-kusuk ini sudah ada sejak hari sabtu kemarin. Yap, tentunya kasak-kusuk kali ini tidak jauh dengan bau-bau upacara 17 Agustus kemarin. Hmmm, kira-kira apa ya? Saya sengaja memantau dunia pertwitteran, hingga muncul sebuah poto. Sebuah poto yang mengusik bagi saya, baginya ya tidak (sepertinya) sama sekali, mengapa? Rona bahagia tampak di wajah yang ada dalam poto tersebut. Poto seperti apa sih? Baik, itu hanya sebuah poto beberapa orang berpakaian batik biru sambil menandai salah satu akun pujaan manusia Indonesia. Hayo, ada yang bisa nebak akun apakah itu? Sekali lagi, bagi sebagian orang poto itu wajar, toh berbagi kebahagian apa yang salah? Lantas? Jelas, mereka menganggap itu biasa-biasa saja. Itu mereka, bagi saya tidak. Poto itu bentuk pamer yang mengiris hati para manusia yang tak bertepuk tangan, benar-benar tidak punya rasa keprihatinan. Oke, sekarang mari coba perjelas lagi, apa maksud ...