Postingan

Selamat, sekali lagi selamat

Menjadi tahun baru selalu tidak mengenakan hati. Mengapa tidak? Untaian harapan serta janji palsu selalu membumbung tinggi di angkasa berbarengan dengan meletusnya kembang api pada pergantian hari. Heuh. Sekali lagi harapan tinggi akan selalu mengiringi pergantian tahun. Tahun ini harus lebih baik. Besok tahun ganjil maka saya harus bla bla bla bla, sampah. Hari esok memang yang selalu tersiksa sebagai pelaksana harian, intensitas niat dan harapan lebih tinggi kan? Setidaknya sebelum terpejamnya mata manusia ada harapan, target yang kudu direalisasikan untuk esok hari. Membebani? Tidak bagi sebagian orang saja. Bahkan ada yang mengatakan ini adalah bentuk motivasi agara setiap harinya ada pekerjaan yang jelas dan bermanfaat, setidaknya. Nah jika terlaksana perencanaan, jika tidak? Apa tidak kasihan kepada hari esok yang selalu menyaksikan harapan yang hanya tersemat saja, tanpa hasil pasti. Dan lagi, pemberi harapan palsu. Kembali lagi. Tahun baru, pembaruan niat katanya. Ko...

Umbel di Shalat Jumat

Allahu maghfir lii dzunubii  wa li wa lidayya warham humaa ka maa rabbayanii shagiraa… Kira-kira apa yang salah dari baris doa ini? ketikannya, kemiringinnya, tebal huruf atau fontnya yang seharusnya menggunakan huruf arab? Atau ada opsi lain lagi yang tidak tersebut, nah itu tugas anda untuk menyebutkan. Doa di atas sangat populer bagi pemeluk agama Islam, sebagai doa untuk orangtua. Sebenarnya tidak  khusus orang Islam saja kok yang boleh melafalkan doa ini. Saudara kristiani, budha, hindu, konghucu, yahudi dan agama yang lainnya yang mempercayai Tuhan. Toh niatan doa ini adalah untuk membalas kebaikan kedua orangtua. Bebas saja bagi siapapun yang masih menganggap jasa orangtua untuk memanjatkan doa dengan kalimat di atas. Lantas mengenai problem bahasa arab yang selalu diakronimkan kepada Islam nanti lain waktu kita bahas. Sebelum memulai bercerita, saya mohon agar doa diatas kembali dibaca, diperiksa, usahakan tidak ada yang berubah redaksinya. Sudah? Oke. Mari otak...

Romantika HP Jadoel

Handphone/hp telah bergeser adanya menjadi kebutuhan primer, bukan lagi sekunder. Hp adalah raja baru dunia “modern”. Adapun aku yang “klasik” (sebutan sendiri) serta tradisional (lagi-lagi riset didanai oleh pribadi dan untuk diri sendiri) masih lah “ndeso”. Aku tak merasa asing dengan hal ini. Yang membuat miris kala melihat mereka menjadi abdi,toh hp kan diciptakan oleh manusia. Kok yo iso mempertuan seng nyiptake? (Cerita korban: AKU). Virus android melanda, manusia memilih untuk menikmati. Toh ya apa salah membelanjakan uang hasil keringat sendiri, mosok yo duit ape ditumpuk wae ndek gudang? Kalau lagi males ketemu seseorang ada trik baru, pura-pura sibuk dengan hp. Kini hp dapat menunjangnya, mungkin anak-anak zaman sekarang belum pernah asiknya menunggu sms (juga susahnya melihat “smiley” pada hp citul). Permasalahan semakin pelik, selain hp yang mulai renta (karena sering di telpon tapi “dengan lugu” suara manis berujar “maaf nomer yang anda tuju sedang tidak akti...

Jangan menjadi “Pejabat”, Santri/Santriwati

Ini bukan pesan suci dari orang yang memiliki derajat Kyai. Jadi ya terserah mau ditaati atau tidak, setidaknya ini kegelisahan yang harus terkeluarkan. (Hah?) Sudah menjadi fitrah manusia untuk minta selalu diakui eksistensinya, secara sengaja atau tidak. Buat apa hidup di dunia ujung-ujungnya tidak dianggap? Mending bunuh diri…. (Jangan diikuti ini sekedar provokasi murahan, jadi jika anda terprovokasi berarti anda………………………….. jawab sendiri ) Nah berangkat demi  pengakuan ada-ada saja tingkah polah manusia, tapi semua usaha itu tampak lucu. Cukup mukoddimahnya, pengamatan ini hanya sekedar analisis orang sampah. Semoga tidak terlalu subjektif atau kesannya menghakimi sendiri, semoga. Sebenarnya untuk tulisan ini proyek lama, jadi mohon dimaklumi jika otakku tak begitu merekam secara bagus. Kejadian berlalu saja…. Hari itu hari yang menyibukkan, para santriwati harus siap sedia menyambut kedatangan adik-adik di Pondoknya selepas purna waktu libur. Waktunya show time,...

Pentingnya Membumi......

Nyaliku keder melihat orang yang duduk bersebelahan ternyata adalah calon mahasiswa yang menerima beasiswa LPDP (itu loh beasiswa pendidikan dari KEMENKEU). Hal ini wajar jika menilik lagi persyaratan untuk menerima beasiswa ini, jauh panggang dari api. Sulit-sulit sembelit bagi yang belum pernah mencoba sama sekali sepertiku. Akan tetapi saudara di sampingku salah untuk memilih UIN sebagai destinasi persinggahan S2 nya (mungkin). Apalah dayaku yang hanya bermodal nekat, tidak ada beasiswa alias kantong pribadi oleh karena mepetnya situasi. Sekali lagi nyaliku ciut………. Sekilas semua akan berjalan timpang, aku yang pura-pura santai (padahal paling kurang pede disbanding sang tetangga) dengan rekomendasi ala kadarnya. Wah dalah sang tetangga ini kurang apa coba, dapat rekomendasi dari KEMENKEU lalu sekali lagi disertai predikat penyandang beasiswa LPDP apalah aku yang hanya…………………….. Hari pertama seakan menjadi show time dengan berkas (beasiswa) yang “sengaja” dipamerkan (mungkin...

Kemungkinan Itu “Mungkin”….

Sudah sewajarnya dan lazimnya manusia menginginkan kemungkinan yang seiya dengan harapan. Diam-diam harapan ini membuncah ke permukaan, selalu. Demi terwujudnya harapan maka segilintir manusia berusaha, hingga lupa manusia sekitarnya, tepatnya ambisius. Depresi akan menjadi akibat wajib bagi manusia-manusia yang merasa gagal pada tujuan. Alih-alih bersabar menunggu waktu yang tepat, dalih “kalau bukan sekarang kapan lagi, jika bukan kita siapa lagi” tiba-tiba menjadi cambuk nan pedas. Memerahkan mulut, mengeringkan tenggorokan kiranya perlu unsur manis guna meluluhkan efek cabai. Dus pada Al-Qur’an pun disebutkan, yang kurang lebih artinya seperti ini “Allah tidak akan merubah suatu kaum kecuali kaum itu merubah dengan dirinya sendiri.” Ayat ini memang multi tafsir dan sebaiknya bagi anda yang penasaran bukalah tafsir tentang ayat ini, insyaallah makhluk konkret yang kebetulan sering digunakan, google tahu akan hal ini. Jadi mbok ya Al-Qur’an tak hanya dilihat saja, sekali-kali dib...

Hujan pun "Bersalah"

Hujan bagaimanapun juga adalah skenario alam yang sangat susah untuk ditampik. Oleh jampi-jampi maupun ditakuti dengan lidi yang mengadah ke langit. Jika ada peristiwa perihal enggannya hujan turun itu bukan berkat sang mantra, apalagi dukun. Okelah kita anggap sasmita sang empunya lumayan tinggi, selain faktor keberuntungan memang menaungi. Di bumi Kalimantan, khususnya daerah yang masih berinduk kabupaten Pulang Pisau hujan menjadi dua sisi mata pedang? Ah tahu kan kabupaten Pulang Pisau, itu daerahnya mekar awal dua ribuan. Tapi jangan salah ejaannya, soalnya dulu banyak yang menyebut pulau pisang.   Mbok   ya “U” di pindah ke susunan kata belakang yang seharusnya tidak ditempati “NG”. Ayolah katanya Indonesianis, kok ada kabupaten yang sudah lama berdiri (2 tahun lebih sering kuanggap lama) belumlah tahu. Atau barangkali perlu pesawat nyasar lalu jatuh hingga mata terbuka. Hmmmm. Sebaiknya check hp anda apakah sudah smart belum? Jangan-jangan hpnya yang smart penggunan...