Postingan

Jangan menjadi “Pejabat”, Santri/Santriwati

Ini bukan pesan suci dari orang yang memiliki derajat Kyai. Jadi ya terserah mau ditaati atau tidak, setidaknya ini kegelisahan yang harus terkeluarkan. (Hah?) Sudah menjadi fitrah manusia untuk minta selalu diakui eksistensinya, secara sengaja atau tidak. Buat apa hidup di dunia ujung-ujungnya tidak dianggap? Mending bunuh diri…. (Jangan diikuti ini sekedar provokasi murahan, jadi jika anda terprovokasi berarti anda………………………….. jawab sendiri ) Nah berangkat demi  pengakuan ada-ada saja tingkah polah manusia, tapi semua usaha itu tampak lucu. Cukup mukoddimahnya, pengamatan ini hanya sekedar analisis orang sampah. Semoga tidak terlalu subjektif atau kesannya menghakimi sendiri, semoga. Sebenarnya untuk tulisan ini proyek lama, jadi mohon dimaklumi jika otakku tak begitu merekam secara bagus. Kejadian berlalu saja…. Hari itu hari yang menyibukkan, para santriwati harus siap sedia menyambut kedatangan adik-adik di Pondoknya selepas purna waktu libur. Waktunya show time,...

Pentingnya Membumi......

Nyaliku keder melihat orang yang duduk bersebelahan ternyata adalah calon mahasiswa yang menerima beasiswa LPDP (itu loh beasiswa pendidikan dari KEMENKEU). Hal ini wajar jika menilik lagi persyaratan untuk menerima beasiswa ini, jauh panggang dari api. Sulit-sulit sembelit bagi yang belum pernah mencoba sama sekali sepertiku. Akan tetapi saudara di sampingku salah untuk memilih UIN sebagai destinasi persinggahan S2 nya (mungkin). Apalah dayaku yang hanya bermodal nekat, tidak ada beasiswa alias kantong pribadi oleh karena mepetnya situasi. Sekali lagi nyaliku ciut………. Sekilas semua akan berjalan timpang, aku yang pura-pura santai (padahal paling kurang pede disbanding sang tetangga) dengan rekomendasi ala kadarnya. Wah dalah sang tetangga ini kurang apa coba, dapat rekomendasi dari KEMENKEU lalu sekali lagi disertai predikat penyandang beasiswa LPDP apalah aku yang hanya…………………….. Hari pertama seakan menjadi show time dengan berkas (beasiswa) yang “sengaja” dipamerkan (mungkin...

Kemungkinan Itu “Mungkin”….

Sudah sewajarnya dan lazimnya manusia menginginkan kemungkinan yang seiya dengan harapan. Diam-diam harapan ini membuncah ke permukaan, selalu. Demi terwujudnya harapan maka segilintir manusia berusaha, hingga lupa manusia sekitarnya, tepatnya ambisius. Depresi akan menjadi akibat wajib bagi manusia-manusia yang merasa gagal pada tujuan. Alih-alih bersabar menunggu waktu yang tepat, dalih “kalau bukan sekarang kapan lagi, jika bukan kita siapa lagi” tiba-tiba menjadi cambuk nan pedas. Memerahkan mulut, mengeringkan tenggorokan kiranya perlu unsur manis guna meluluhkan efek cabai. Dus pada Al-Qur’an pun disebutkan, yang kurang lebih artinya seperti ini “Allah tidak akan merubah suatu kaum kecuali kaum itu merubah dengan dirinya sendiri.” Ayat ini memang multi tafsir dan sebaiknya bagi anda yang penasaran bukalah tafsir tentang ayat ini, insyaallah makhluk konkret yang kebetulan sering digunakan, google tahu akan hal ini. Jadi mbok ya Al-Qur’an tak hanya dilihat saja, sekali-kali dib...

Hujan pun "Bersalah"

Hujan bagaimanapun juga adalah skenario alam yang sangat susah untuk ditampik. Oleh jampi-jampi maupun ditakuti dengan lidi yang mengadah ke langit. Jika ada peristiwa perihal enggannya hujan turun itu bukan berkat sang mantra, apalagi dukun. Okelah kita anggap sasmita sang empunya lumayan tinggi, selain faktor keberuntungan memang menaungi. Di bumi Kalimantan, khususnya daerah yang masih berinduk kabupaten Pulang Pisau hujan menjadi dua sisi mata pedang? Ah tahu kan kabupaten Pulang Pisau, itu daerahnya mekar awal dua ribuan. Tapi jangan salah ejaannya, soalnya dulu banyak yang menyebut pulau pisang.   Mbok   ya “U” di pindah ke susunan kata belakang yang seharusnya tidak ditempati “NG”. Ayolah katanya Indonesianis, kok ada kabupaten yang sudah lama berdiri (2 tahun lebih sering kuanggap lama) belumlah tahu. Atau barangkali perlu pesawat nyasar lalu jatuh hingga mata terbuka. Hmmmm. Sebaiknya check hp anda apakah sudah smart belum? Jangan-jangan hpnya yang smart penggunan...

Pindah Amben

                Kematian merupakan perpindahan dimensi nyata ke dimensi kekekalan nan abadi. Pepatah urip mung mampir ngombe seakan berbicara dekat sekali kepada seonggok daging yang menamai dirinya manusia. Entah itu yang sudah meng’aku’kan manusianya atau hanya agar dapat diterima dalam khalayak komunitas. Mak jedar dengan segenap ilmu sasmita alam bagi yang peka teranglah tanda-tanda akan kematian. Selalu banyak keterkaitan entah itu sengaja atau tidak tentang sebuah kematian, apalagi berkenaan dengan orang “Jawa”. Selalu ada-ada saja yang dapat dikaitkan, masalah santet atau tenun oleh orang ‘tersakiti’ dan lain-lain. Unik tapi seakan hal itu memang lumrah selain lumrahnya hamil sebelum nikah kekinian. Bagi yang sadar akan politik kematian pasti akan memanfaatkan momen ini guna menghasut sang perengek akan minggatnya sang roh ke mbaurekso urip. Manusia seperti umumnya sangatlah butuh kambing hitam sebagai tempat sampah keluarnya deretan ...

Orang Itu Tua

                Siapakah dia tua renta dengan keriput menghiasi lekuk wajah? Siapakah ia yang nekad menanggung beban Tuhan di dunia? Lihatlah mereka renta, uban putih tumbuh lebat di sekujur kepala, pun jika beruntung belum rontok. Senyumnya masihlah khas seperti dahulu kecuali kini gigi ompong disertai hiasan sang gusi berwarna kemerah mudaan. Agak sedikit berbeda dengan dahulu kala ketika sang waktu memberikan suara renyah melahap hidangan. Kini, kekuatan untuk makan dibatasi, gerilya penyakit yang selama ini mengintai setiap sisi kelemahan manusia mulai sukses menjalankan misinya. Guna membuat putus asa, nyeri tumbuh di mana saja sesuka hatinya. Terkadang nyeri itulah yang membuat kaki tak lagi kuasa walau hanya sekedar melihat tawa sang cucu. Sungguh berbeda kala kita kecil kaki-kaki itu lincah sangat lincah digerakan kesana kemari, dipanggulnya sang anak dipundaknya yang agung. Sebuah symbol akan kebanggaa juga sebuah symbol bahwa sang ...

Gila Sama Dengan Waras

Apa sebenarnya hakikat makna dari GILA? Siapakah yang berhak mengatur kegilaan? Sampai batas mana sesorang tergolong gila dan waras? Apakah orang gila itu manusia juga?                 Sering hal-hal yang berada di luar nalar kemanusian disebut gila. Gila atau   crazy   bisa dikategorikan kepada hal yang super ‘nekad’ terkadang, namun juga tak jarang menghasilkan maha karya cadas. Jika gila dikaitkan dengan kejiwaan maka jadilah artinya absurd. Pemahaman manusia yang cukup rendah terhadap manusia lain membuat vonis ‘gila’ mudah terketuk. Sebenarnya untuk menjadi gila diperlukan ketabahan serta kekuatan mental yang tinggi. Kok bisa? Dalam struktur kegilaan tidak dikenal alam ‘manja’, yang terkenal adalah faktor kerja keras! Lalu bagaimana dengan orang gila yang hanya tertawa dan mengamuk saja? Nah kalau generalisasi gila masuk dalam taraf ini maka alangkah kurang bijak sekali! Gila jiwa beda d...